Kamis, 03 Desember 2009

Tunggulah, sebentar saja...

Mari lupakan sejenak tentang rasa yang sedang kita rasa
Juga tentang setumpuk rencana yang kadaluwarsa
Aku dan kamu tak sekedar sadar dimana sebenarnya kita berada
Tapi kita juga mahfum tentang betapa sesaknya dada kita
Menghitungi jejak langkah yang tak bertepi ini

Mari kita rengkuh mimpi tanpa harus mengucap kata 'Terserah'
Apalagi mengeluh keluh, pasrah dan menyerah
Biarlah bumi terus mengitari api meski kita tetap belum mengerti
Tentang arti sakit, marah dan airmata

Kemarilah, sayang...
Mari kita berdua nyalakan lentera mungil itu
Aku akan tetap disisimu meski kutahu hatimu masih merajam perih
Dan kita jangan menambah kecewa dan nestapa
Hanya karena mimpi yang kita tunggu itu tak pernah ada....

Rabu, 02 Desember 2009

Pada sebuah ranjang, tubuhku melayang!

Gerimis bulan Desember membingkai langit yang tampak berantakan
Tetesannya lembut namun menyimpan satir sekaligus rasa yang kusut masai
Kita berdua saling melahap langit sehingga hangatnya menyerpih gurih
Menyerupai butiran-butiran keringat yang asin

Suara-suara nafas yang tersengal memecah keheningan
Menghantarkan kita pada pintu surga buatan atau neraka rakitan
Tapi kita berdua tak perduli!
Biarkan semua terjadi sejadi-jadinya!
Lagipula kita terlampau rakus menikmati Dipan Senja itu bukan?

Kita bergumul dalam temaram saat tubuh meronta lirih
Sambil berharap malam tak terlalu pekat, kita tuntaskan sampai habis


Lembang, 1 Desember 2009

Senin, 30 November 2009

Malam yang janggal

Mata yang terbenam nanar
Dalam bingkai kisah yang muram
Liar, menyalak dalam kepak kesunyian yang mencekam
Hitam, menyeruak dalam lipatan ketaksengajaan
Tentang sebuah mimpi yang membawaku pada pelabuhan tak betepi
Kubiarkan pelupuk mataku mengurai sungai yang deras

Dalam liang hampa kesunyian, dalam kepompong diri yang dekaden
Ada raga yang terkoyak, batin yang mengerang!
Jerit lolongan seumpama meminta tolong...
Lukaku menyeruak dalam lipatan takdir seperti yang sudah-sudah
Aku minta didekap!

Dimana kuminta kesempatan
Kudapati diri ini semakin meleleh terbakar
Tak ada yang bisa kutunggu
Selain seputaran waktu yang tak bosan menderak

Jumat, 06 November 2009

Tirani Sang Waktu

Apa yang sebenarnya kita tunggu?
Hanya mengikuti kemana setiap senja mulai berangkat!
Kenapa harus terburu-buru?
Bukankah setiap subuh adalah sebuah misteri?
Oh, sang waktu: tak bukan adalah rantai belenggu
Yang menjadikan setiap nafas menjadi serupa ketakberdayaan!
Terjebak dalam lingkar tubuh yang terbakar...

Ini sudah cukup...

Di atas bangkai-bangkai dogmatisme yang disebut takdir:
aku membungkus diri sendiri dalam secarik kain kafan kalam puitis...
Di antara gelinding kepastian utopia yang tak pernah sampai:
aku menolak menjadi bidak para thagut despotik yang menyuruhku mati...
Di antara perantara nasib yang dipermainkan kerumunan lalat-lalat pasar:
aku telanjangi serupa hegemoni tata dunia yang membanal...
Di ujung tapal batas dunia yang semakin durjana:
aku dilumat api senja dalam kilauan sekam berdebu...
Di tepi peradaban para manusia penyembah berhala saat senja mulai mangkir dari tanah asal:
aku terpelanting dihunus mimpi...

Aku coba mengeja aneka nalar dan prasangka
Di antara tumpukan sampah propaganda usang
Aku diam terdampar nyaris binasa
Aku berlutut - Terlentang - Kemudian hening
Dengan semulut penuh rintihan laksana menahan birahi:
Aku sudah lelah...
Ini sudah cukup....

Rabu, 28 Oktober 2009

Mengecup Sunyi

Aku masih disini, menikmati malam dari bilik jendela tak berkaca. Namun sepotong langit mampir sebagai sebuah kejutan yang segar. Tampak bergulung-gulung dan sedikit abu-abu. Tak ada cahaya seperti batu safir sebab disini terlalu gelap dan dinding kelam. Aku melihat bintang terjauh diantara bintang yang terang. Banyak yang terang, tapi hanya satu saja yang berkedip. Banyak yang terpanggil, tapi hanya satu yang terpilih...

Tentang sebuah tanya


Adakah yang lain dari hidup ini selain kata Sabar?
Haruskah terus menerus bertahan ketika jasad dirajam renta?
Kemanakah akhirnya dan dimanakah raga ini bermuara?
Ketika raga dililit tanah, kemanakah terbangnya sang nyawa?

Oh, kemarilah jiwa-jiwa yang bersih
Terkutuklah alam yang sengaja membungkusku dalam kesia-siaan!
Membiarkanku tergolek lemas dan tak berdaya melihat gegap gempita dunia
Sementara diriku dihempas gelombang samudera ketakterhinggaan!

Kemarilah duka, mari menari bersamaku dalam irama rintih
Kita dendangkan sebuah lagu tentang sunyi dan sepi
Bersama para malaikat yang kini enggan dan malas menjemputku mati
Wahai alam, tak bosankah engkau memberiku dahaga?

Kami yang masih setia dalam doa menanti oase di padang tandus
Dalam keganjilan-keganjilan kami yang penuh dosa dan lumpur nafsu
Timpakan lumpur panas itu, biar hancur luluh lantak sekalian!

Oh hidup, tak lain adalah tanah gersang yang menjadikanku seonggok daging
Dengan otak dan hati yang tak kalah kering
Hanya menanti pembusukan menjadi mayat-mayat yang beraroma sengak...


)* Kamar gelap, 26 Juli 2006